regina.agustin10's blog
mencari dan memberi yang terbaik
 
 
cerita inspirasi
Posted on September 12th, 2010 at 1:41 am by regina.agustin10

Nama : Regina Agustin
NRP : I34100066
Laskar : 30
Anak Prihatin

Di sebuah kota kecil di daerah Jawa Barat, tepat nya di kota Banjar ada seorang anak yang benama Roni. Dia adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya sering tinggal di luar kota, mereka tinggal di sini bersama ibunya. Ibunya bekerja banting tulang untuk menghidupi ke lima anaknya tersebut, uang yang dikirim dari ayahnya sangat minim, dan sangat tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Roni anak yang pintar, selain pintar dia juga rajin, ulet dan tidak gengsi. Ia anak yang berprestasi di sekolahnya. Melihat keadaan keluarganya, ia berpikir untuk membantu ibunya. Segala sesuatu yang ia bisa kerjakan dan menghasilkan uang, ia jual,dan ia tidak merasa gengsi sedikit pun. Waktu itu ia membuat kandang jangkrik, layangan, dan pistol-pistolan yang terbuat dari kayu. Laku banyak jualannya itu. Uangnya ia tabung dan untuk uang jajan sekolah adik-adiknya.
Hidupnya sangat prihatin. Banyak orang yang menyukainya, karena orangnya sederhana, pintar, pekerja keras, dan pendiam. Jikalau ayahnya pulng, ia sering dihukum dan disiksa walaupun hanya kesalahan kecil. Tapi ia tetap sabar. Ia tetap berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik. Di masa-masa kecil nya ia sangat menderita, ia bercita-cita ingin kuliah dan mendapatkan pekerjaan untuk merubah hidup keluarganya. Akhirnya setelah lulus SMA ia diterima di salah satu universitas negeri terkemuka di Bandung. Ia adalah orang pertama di Banjar yang diterima di universitas itu. Ia sangat senang dan bersyukur bisa diterima. Tapi apa, ayahnya tetap saja menyalahkan ia. Dari situ ia merasa prustasi, bingung, mengapa segala sesuatu yang ia kerjakan dan hasilkan selalu salah. Saking bingungnya hampir saja ia loncat ke dalam sumur. Tapi untung ada tetangga yang melihatnya, dan menenangkannya. Setelah diadakan pembicaraan, akhirnya semuanya baik.
Perjuangannya belum berakhir . Ia kuliah hanya diberi uang bulanan seadanya. Karena ibunya harus membagi dengan adik-adiknya yang masih sekolah. Tapi ia tidak menyerah begitu saja, sambil kuliah ia sambil kekerja sebagai penyiar radio di Bandung untuk membantu meringankan ibunya. Malah dari gajinya itu setiap bulannya ia mengirimkan uang untuk ibunya. Ia tetap terus berprestasi di kampusnya, sampai ia sarjana dengan prestasi yang sangat membanggakan.
Setelah lulus kuliah, ia banyak ditawari pekerjaan. Karena ia bekerja sangat rajin, tekun, ulet, dan jujur. Sampai-sampai ia bingung harus memilih yang mana. Ia berdoa kepada Allah untuk diberikan yang terbaik dan juga meminta doa dari ibunya. Sampai-sampai ada yang berani menggaji besar agar Roni dapat bekerja di sana. Ada dua lapangan pekerjaan yang memperebutkannya, Perusahaan Sosro dan Radio OZ. Mereka berani menggaji besar agar Roni dapat bekerja di sana. Tapi setelah solat istiharoh, ia memutuskan untuk memilih Perusahaan Sosro. Ia bekerja sangat rajin, jujur,dan tekun. Dan memang ia adalah seorang pekerja keras. Ia bekerja dari bawah, dari pahit. Berkat keprihatinannya, kekuatannya, kesabarannya, dan kerja kerasnya, alhamdulillah sekarang ia merasakan manisnya dari pahitnya yang ia rasakan. Sekarang ia menjabat sebagai Dirut kedua di Perusahaan Sosro di Indonesia.
Ada pepatah mengatakan “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Dan Roni sangat mengalaminya. Tidak pernah terpikir akan menjadi orang sukses seperti sekarang, dan tidak pernah terpikir akan mengelilingi dunia. Tapi sekarang Roni telah bisa merasakn semuanya, tapi tidak sedikitpun ia sombong, atau kacang lupa akan kulitnya. Ia tetap menjadi Roni yang dulu, Roni yang pekerja keras, baik, jujur, tekun dan sangat sayang terhadap keluarganya.

Nama : Regina Agustin
NRP : I34100066
Laskar : 30
Cerita inspirasi dari diri sendiri
Hidup itu Penuh Cobaan
Saya adalah anak ke dua dari 2 bersaudara. Saya mempunyai satu kakak laki-laki. Kami hidup di keluarga yang sederhana. Ayah saya bekerja sebagai PNS, ibu saya ibu rumah tangga.
Dalam kehidupan semua orang pasti tidak ada yang sempurna. Hidup itu penuh ujian dan cobaan. Tapi Allah tidak akan memeberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Waktu itu tahun 2004,tepat nya 2 hari sebelum puasa ramadhan. Awal ujian terbesar dalam keluarga kami. Ayah saya mengalami kecelakaan bermotor di daerah Ciamis. Kakinya patah. Kami terkejut saat ada yang mengabari kami lewat telepon. Waktu itu ibu saya sedang sakit. Dia memaksakan diri untuk pergi ke sana. Saya bersama kakak berusaha mencari mobil tetangga yang bersedia mengantar kami ke Ciamis bersama nenek. Ternyata ayah dibawa ke pengobatan tulang tradisional. Sesampainya kami di sana, saya merasa sangat sedih melihat keadaannya. Kami pun merasa terpukul dengan keadaan ini. Tapi kami mencoba untuk tabah.
Setelah beberapa minggu kejadian itu,kakak saya ujian masuk SMA. Dia merasa pasra bila dia tidak diterima di SMA itu, karena dia kepikiran ayah. Tapi alhmdulillah dia diterima, dan masuk kelas unggulan. Mendengar kabar itu kami pun senang, begitu juga ayah. Setelah kurang lebih 1 bulan, kaki ayah belum juga sembuh, lalu ibu mengambil keputusan untuk membawa dia ke rumah sakit. Ternyata kakinya harus di operasi. Dua kali ayah di operasi pada bulan puasa tahun itu juga. Saya dan ibu yang menginap di rumah sakit. Kakak di rumah bersama sodara dari Ciamis. Hampir 1 bulan kami di rumah sakit, tapi tidak sampai idul fitri di sana. Setelah pulang ke rumah, masa penyembuhan yang harus sabar. Ayah harus belajar berjalan lagi dengan menggunakan tongkat. Setelah bertahap beberapa bulan lamanya, alhmdulillah ayah bisa berjalan seperti biasa,tapi harus hati-hati karena tulangnya yang tidak senormal dulu, dan masih ada satu luka bekas tusukan pen tidak kering-kering. Kata dokter itu harus di operasi lagi untuk membuang nanah yang ada di dalam tulang, yang di akibatkan dulu pengobatan tradisional yang tidak cocok. Tapi ayah tidak mau.
Tahun 2005 ayah kecelakaan lagi dan tepat pula sebelum puasa. Hanya ini satu minggu sebelum puasa ramadhan. Dan tulangnya patah lagi di tempat yang sama. Waktu itu saya dan kakak sedang sekolah, dan ibu berada di Bandung. Saya dipanggil guru piket, katanya ada ayah menunggu di depan. Tidak ada curiga sedikitpun. Setibanya saya di depan gerbang sekolah, saya melihat ayah duduk di becak, hati saya sudah merasa tidak enak. Ternyata benar, ayah kecelakaan lagi. Waktu itu saya merasa orang yang paling menderita. Saya pun menangis, dan langsung menyusul ke rumah sakit, karena jarak antara sekolah saya dengan rumah sakit sangat dekat. Saya sendiri di IGD, mengurus administrasi ayah. Setelah itu saya menghubungi kakak. Saya bingung untuk menghubungi ibu, kasihan, karena di sana ibu juga sedang pengobatan. Tapi saya harus menghubungi ibu. Setelah saya mengabari ibu, ibu menangis, saya pun ikut menangis. Kami merasa lebih terpukul dari sebelumnya.
Sore itu juga ibu pulang, dan sampai ke Rumah Sakit Banjar malam hari. Akhirnya besok ayah di operasi kembali dan waktunya lebih lama. Ibu merasa bingung harus mencari kemana, dimana uang untuk pengobatan ayah. Kami pun berdo’a agar kami diberi kemudahan, kesabaran, ketabahan untuk menghadapi cobaan yang Allah berikan, dan tetap berusaha untuk mencari uang. Tahun itu kami merasakan bagaimana idul fitri di rumah sakit. Sedih rasanya dari awal puasa sampai satu minggu setelah idul ftri berada di rumah sakit. Itu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Dua hari pulang ke rumah, ibu mendadak sakit usus buntu, dan harus segera operasi, dan malam itu nenek juga harus dirawat di dokter karena sakit ginjalnya kambuh. Saat itu saya merasa ingin sekali menjerit sekuat tenaga, ya Allah………..mengapa Kau berikan cobaan bertubi-tubi kepada kelurga saya……………………… tapi saya langsung sadar istigfar, karena tidak boleh berkata seperti itu.
Akhirnya saya sendiri yang menemani ibu di rumah sakit, ayah di rumah di temani tetangga, karena dia belum bisa apa-apa, dan kakak menemani nenek di dokter. Besoknya ibu di operasi, saya ditemani tetangga menunggu berjalannya operasi. Tak lepas saya berdo’a untuk kelncaran ibu. Alhmdulillah operasi berjalan lancar, dan ibu sembuh kembali.
Konsentrasi belajar pun jadi terganggu, karena selama dua tahun berturut-turut saya sering ijin tidak sekolah selama ayah dan ibu masuk rumah sakit. Tapi saya tetap berusaha untuk fokus. Tahun 2006 tepatnya kelas 2 SMP saya terkena DBD dan typus. Akhirnya saya diarawat di rumah sakit selama 9 hari. Bisa dibilang lengkap lah sudah penderitaan keluarga kami pada 2 tahun berturut-turut. Banyak orang yang membicarakan miring tentang penderitaan keluarga saya. Tapi saya anggap angin lalu. Karena mereka tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti bagaimana penderitaan yang kami rasakan. Saya melihat perjuangan ibu sangat besar untuk keluarga. Akhirnya saya masuk SMA. Sekolah yang sama seperti kakak. Dari kejadian-kejadian dulu, cobaan dan ujian yang Allah berikan pada keluarga kami , kami lebih kuat untuk menghadapi hidup. Tapi dari kejadian-kejadian dulu tidak menyurutkan belajar saya dan kakak. Alhamdulillah kakak saya diterima PMDK IPB tahun 2007. Dan saya pun ingin seperti kakak, selain untuk meringankan biaya kuliah, saya memeng ingin kuliah di sana. Saya belajar agar memperoleh nilai yang bagus, dan alhmdulillah perjuangan saya selama bertahun-tahun, dengan mengalami cobaan yang berat dalam hidup, tahun 2010 saya diterima USMI IPB. Rasa sedih yang dulu ada, seakan terbayar sudah. Keinginan saya untuk membahagiakan orang tua terutama ibu, tercapai untuk sekarang. Tapi cita-cita dan keinginan paling besar untuk ibu saya belum tercapi, dan sedang dalam proses, yaitu lulus menjadi sarjana dengan prestasi yang membanggakan dan mendapat pekerjaan yang layak. Amiiiinnn…


Posted on September 12th, 2010 at 1:29 am by regina.agustin10

cerita inspirasi diri sendiri

Nama : Regina Agustin
NRP : I34100066
Laskar : 30
Cerita inspirasi dari diri sendiri
Hidup itu Penuh Cobaan
Saya adalah anak ke dua dari 2 bersaudara. Saya mempunyai satu kakak laki-laki. Kami hidup di keluarga yang sederhana. Ayah saya bekerja sebagai PNS, ibu saya ibu rumah tangga.
Dalam kehidupan semua orang pasti tidak ada yang sempurna. Hidup itu penuh ujian dan cobaan. Tapi Allah tidak akan memeberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Waktu itu tahun 2004,tepat nya 2 hari sebelum puasa ramadhan. Awal ujian terbesar dalam keluarga kami. Ayah saya mengalami kecelakaan bermotor di daerah Ciamis. Kakinya patah. Kami terkejut saat ada yang mengabari kami lewat telepon. Waktu itu ibu saya sedang sakit. Dia memaksakan diri untuk pergi ke sana. Saya bersama kakak berusaha mencari mobil tetangga yang bersedia mengantar kami ke Ciamis bersama nenek. Ternyata ayah dibawa ke pengobatan tulang tradisional. Sesampainya kami di sana, saya merasa sangat sedih melihat keadaannya. Kami pun merasa terpukul dengan keadaan ini. Tapi kami mencoba untuk tabah.
Setelah beberapa minggu kejadian itu,kakak saya ujian masuk SMA. Dia merasa pasra bila dia tidak diterima di SMA itu, karena dia kepikiran ayah. Tapi alhmdulillah dia diterima, dan masuk kelas unggulan. Mendengar kabar itu kami pun senang, begitu juga ayah. Setelah kurang lebih 1 bulan, kaki ayah belum juga sembuh, lalu ibu mengambil keputusan untuk membawa dia ke rumah sakit. Ternyata kakinya harus di operasi. Dua kali ayah di operasi pada bulan puasa tahun itu juga. Saya dan ibu yang menginap di rumah sakit. Kakak di rumah bersama sodara dari Ciamis. Hampir 1 bulan kami di rumah sakit, tapi tidak sampai idul fitri di sana. Setelah pulang ke rumah, masa penyembuhan yang harus sabar. Ayah harus belajar berjalan lagi dengan menggunakan tongkat. Setelah bertahap beberapa bulan lamanya, alhmdulillah ayah bisa berjalan seperti biasa,tapi harus hati-hati karena tulangnya yang tidak senormal dulu, dan masih ada satu luka bekas tusukan pen tidak kering-kering. Kata dokter itu harus di operasi lagi untuk membuang nanah yang ada di dalam tulang, yang di akibatkan dulu pengobatan tradisional yang tidak cocok. Tapi ayah tidak mau.
Tahun 2005 ayah kecelakaan lagi dan tepat pula sebelum puasa. Hanya ini satu minggu sebelum puasa ramadhan. Dan tulangnya patah lagi di tempat yang sama. Waktu itu saya dan kakak sedang sekolah, dan ibu berada di Bandung. Saya dipanggil guru piket, katanya ada ayah menunggu di depan. Tidak ada curiga sedikitpun. Setibanya saya di depan gerbang sekolah, saya melihat ayah duduk di becak, hati saya sudah merasa tidak enak. Ternyata benar, ayah kecelakaan lagi. Waktu itu saya merasa orang yang paling menderita. Saya pun menangis, dan langsung menyusul ke rumah sakit, karena jarak antara sekolah saya dengan rumah sakit sangat dekat. Saya sendiri di IGD, mengurus administrasi ayah. Setelah itu saya menghubungi kakak. Saya bingung untuk menghubungi ibu, kasihan, karena di sana ibu juga sedang pengobatan. Tapi saya harus menghubungi ibu. Setelah saya mengabari ibu, ibu menangis, saya pun ikut menangis. Kami merasa lebih terpukul dari sebelumnya.
Sore itu juga ibu pulang, dan sampai ke Rumah Sakit Banjar malam hari. Akhirnya besok ayah di operasi kembali dan waktunya lebih lama. Ibu merasa bingung harus mencari kemana, dimana uang untuk pengobatan ayah. Kami pun berdo’a agar kami diberi kemudahan, kesabaran, ketabahan untuk menghadapi cobaan yang Allah berikan, dan tetap berusaha untuk mencari uang. Tahun itu kami merasakan bagaimana idul fitri di rumah sakit. Sedih rasanya dari awal puasa sampai satu minggu setelah idul ftri berada di rumah sakit. Itu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Dua hari pulang ke rumah, ibu mendadak sakit usus buntu, dan harus segera operasi, dan malam itu nenek juga harus dirawat di dokter karena sakit ginjalnya kambuh. Saat itu saya merasa ingin sekali menjerit sekuat tenaga, ya Allah………..mengapa Kau berikan cobaan bertubi-tubi kepada kelurga saya……………………… tapi saya langsung sadar istigfar, karena tidak boleh berkata seperti itu.
Akhirnya saya sendiri yang menemani ibu di rumah sakit, ayah di rumah di temani tetangga, karena dia belum bisa apa-apa, dan kakak menemani nenek di dokter. Besoknya ibu di operasi, saya ditemani tetangga menunggu berjalannya operasi. Tak lepas saya berdo’a untuk kelncaran ibu. Alhmdulillah operasi berjalan lancar, dan ibu sembuh kembali.
Konsentrasi belajar pun jadi terganggu, karena selama dua tahun berturut-turut saya sering ijin tidak sekolah selama ayah dan ibu masuk rumah sakit. Tapi saya tetap berusaha untuk fokus. Tahun 2006 tepatnya kelas 2 SMP saya terkena DBD dan typus. Akhirnya saya diarawat di rumah sakit selama 9 hari. Bisa dibilang lengkap lah sudah penderitaan keluarga kami pada 2 tahun berturut-turut. Banyak orang yang membicarakan miring tentang penderitaan keluarga saya. Tapi saya anggap angin lalu. Karena mereka tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti bagaimana penderitaan yang kami rasakan. Saya melihat perjuangan ibu sangat besar untuk keluarga. Akhirnya saya masuk SMA. Sekolah yang sama seperti kakak. Dari kejadian-kejadian dulu, cobaan dan ujian yang Allah berikan pada keluarga kami , kami lebih kuat untuk menghadapi hidup. Tapi dari kejadian-kejadian dulu tidak menyurutkan belajar saya dan kakak. Alhamdulillah kakak saya diterima PMDK IPB tahun 2007. Dan saya pun ingin seperti kakak, selain untuk meringankan biaya kuliah, saya memeng ingin kuliah di sana. Saya belajar agar memperoleh nilai yang bagus, dan alhmdulillah perjuangan saya selama bertahun-tahun, dengan mengalami cobaan yang berat dalam hidup, tahun 2010 saya diterima USMI IPB. Rasa sedih yang dulu ada, seakan terbayar sudah. Keinginan saya untuk membahagiakan orang tua terutama ibu, tercapai untuk sekarang. Tapi cita-cita dan keinginan paling besar untuk ibu saya belum tercapi, dan sedang dalam proses, yaitu lulus menjadi sarjana dengan prestasi yang membanggakan dan mendapat pekerjaan yang layak. Amiiiinnn…


Posted on August 26th, 2010 at 8:14 pm by regina.agustin10

Nama : Regina Agustin
NRP : I34100066
Laskar : 30
Anak Prihatin

Di sebuah kota kecil di daerah Jawa Barat, tepat nya di kota Banjar ada seorang anak yang benama Roni. Dia adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya sering tinggal di luar kota, mereka tinggal di sini bersama ibunya. Ibunya bekerja banting tulang untuk menghidupi ke lima anaknya tersebut, uang yang dikirim dari ayahnya sangat minim, dan sangat tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Roni anak yang pintar, selain pintar dia juga rajin, ulet dan tidak gengsi. Ia anak yang berprestasi di sekolahnya. Melihat keadaan keluarganya, ia berpikir untuk membantu ibunya. Segala sesuatu yang ia bisa kerjakan dan menghasilkan uang, ia jual,dan ia tidak merasa gengsi sedikit pun. Waktu itu ia membuat kandang jangkrik, layangan, dan pistol-pistolan yang terbuat dari kayu. Laku banyak jualannya itu. Uangnya ia tabung dan untuk uang jajan sekolah adik-adiknya.
Hidupnya sangat prihatin. Banyak orang yang menyukainya, karena orangnya sederhana, pintar, pekerja keras, dan pendiam. Jikalau ayahnya pulng, ia sering dihukum dan disiksa walaupun hanya kesalahan kecil. Tapi ia tetap sabar. Ia tetap berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik. Di masa-masa kecil nya ia sangat menderita, ia bercita-cita ingin kuliah dan mendapatkan pekerjaan untuk merubah hidup keluarganya. Akhirnya setelah lulus SMA ia diterima di salah satu universitas negeri terkemuka di Bandung. Ia adalah orang pertama di Banjar yang diterima di universitas itu. Ia sangat senang dan bersyukur bisa diterima. Tapi apa, ayahnya tetap saja menyalahkan ia. Dari situ ia merasa prustasi, bingung, mengapa segala sesuatu yang ia kerjakan dan hasilkan selalu salah. Saking bingungnya hampir saja ia loncat ke dalam sumur. Tapi untung ada tetangga yang melihatnya, dan menenangkannya. Setelah diadakan pembicaraan, akhirnya semuanya baik.
Perjuangannya belum berakhir . Ia kuliah hanya diberi uang bulanan seadanya. Karena ibunya harus membagi dengan adik-adiknya yang masih sekolah. Tapi ia tidak menyerah begitu saja, sambil kuliah ia sambil kekerja sebagai penyiar radio di Bandung untuk membantu meringankan ibunya. Malah dari gajinya itu setiap bulannya ia mengirimkan uang untuk ibunya. Ia tetap terus berprestasi di kampusnya, sampai ia sarjana dengan prestasi yang sangat membanggakan.
Setelah lulus kuliah, ia banyak ditawari pekerjaan. Karena ia bekerja sangat rajin, tekun, ulet, dan jujur. Sampai-sampai ia bingung harus memilih yang mana. Ia berdoa kepada Allah untuk diberikan yang terbaik dan juga meminta doa dari ibunya. Sampai-sampai ada yang berani menggaji besar agar Roni dapat bekerja di sana. Ada dua lapangan pekerjaan yang memperebutkannya, Perusahaan Sosro dan Radio OZ. Mereka berani menggaji besar agar Roni dapat bekerja di sana. Tapi setelah solat istiharoh, ia memutuskan untuk memilih Perusahaan Sosro. Ia bekerja sangat rajin, jujur,dan tekun. Dan memang ia adalah seorang pekerja keras. Ia bekerja dari bawah, dari pahit. Berkat keprihatinannya, kekuatannya, kesabarannya, dan kerja kerasnya, alhamdulillah sekarang ia merasakan manisnya dari pahitnya yang ia rasakan. Sekarang ia menjabat sebagai Dirut kedua di Perusahaan Sosro di Indonesia.
Ada pepatah mengatakan “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Dan Roni sangat mengalaminya. Tidak pernah terpikir akan menjadi orang sukses seperti sekarang, dan tidak pernah terpikir akan mengelilingi dunia. Tapi sekarang Roni telah bisa merasakn semuanya, tapi tidak sedikitpun ia sombong, atau kacang lupa akan kulitnya. Ia tetap menjadi Roni yang dulu, Roni yang pekerja keras, baik, jujur, tekun dan sangat sayang terhadap keluarganya.

pelatihan IT mahasiswa baru 2010
Posted on July 27th, 2010 at 1:38 am by regina.agustin10

IPB Badge

KPM “FEMA”